Senin, 02 Mei 2016

PANDANGAN AL-QUR'AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DAN MANUSIA


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Al-Baqarah[2]: 30)
Al-Quran, sebagai firman Allah SWT, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah mengungkap dan menyibak rahasia tentang penciptaan manusia. Setelah mengkaji lebih dalam mengenai ayat-ayat tentang penciptaan manusia ada yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, ada pula ayat-ayat yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, tembikar, lumpur, sari pati tanah, sari pati air yang hina, air yang tertumpah, dan mani yang dipancarkan. Pesan-pesan itu diulang-ulang di banyak kesempatan. Bahwa manusia diciptakan dari tanah diulang-ulang di enam kesempatan, dari tanah liat di tujuh kesempatan, dari tembikar di empat kesempatan, dan dari sari pati air yang hina, air yang tertumpah, dan mani yang dipancarkan masing-masing disebutkan satu kali.
Ø  Penciptaan Adam
Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang periode penciptaan Adam seraya berfirman
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah,” (QS. Ali Imraan: 59)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia telah menciptakan adam dari tanah kering, kemudian tanah ini dibasahi sehingga menjadi tanah liat yang melengket pada tangan. Sebagaimana firman Allah SWT
مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ وَ لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ
Artinya: “Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah,” (QS. Al-Mu’minun: 12).
فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لازِبٍ
Artinya: “...Sesungguhnya kami telah menciptakan mereka dari tanah liat,” (QS. Ash-Shaaffat: 11).
Setelah itu menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk oleh Allah SWt dengan sebaik-sebaiknya. Allah SWT berfirman
حَمَإٍ مَسْنُونٍ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ
Artinya: “Dan sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr: 26)
 الَّذِيأَحْسَنَكُلَّشَيْءٍخَلَقَهُوَبَدَأَخَلْقَالْإِنْسَانِمِنْطِينٍ
Artinya: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS As Sajadah: 7)
Setelah kering, maka ia membuat tanah kering seperti tembikar.
خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Artinya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (QS. Ar-Rahman: 14)
Allah SWT membentuknya sesuai bentuk yang dikehendaki, setelah sempurna maka Allah SWT meniupkan ruh padanya dan dia menjadi hidup.

 Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS.Al-Hijr : 28-29)
Inilah periode-periode penciptaan Adam menurut Al-Qur’an.
Ø  Penciptaan Hawa
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini selalu berpasang-pasangan, Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya, untuk itu kemudian diciptakan Hawa sebagai pendamping sekaligus teman hidup(istri) untuk Adam
Adapun proses penciptaan manusia kedua ini, oleh Allah SWT dijelaskan dalam firmannya

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisaa’:1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan : "Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam" (HR. Bukhari-Muslim)
Ayat dan hadits diatas mengandung makna bahwa untuk manusia Allah menjadikan pasangannya dari jenis yang sama sehingga dapat terjadi rasa ketertarikan antara yang satu dengan yang lainnya untuk berkembang biak.
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tidak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
Ø  Penciptaan Manusia Selanjutnya
Penciptaan manusia ketiga adalah proses penciptaan semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa as. Adapun periode-periode yang dilalui oleh penciptaan anak-cucu Adam, maka Allah SWT berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah."(Q.S. Al- mu'minun : 12)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
Artinya: "Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."(Q.S. Al- mu'minun : 13)

 Artinya: "Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."(Q.S. Al- mu'minun: 14)
Di dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim) dari air mani tersebut, Allah kemudian menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah. Proses perubahan dari nuthfah menjadi alaqah adalah 40 hari
عَلَقٍ مِنْ الْإِنسَانَ خَلَقَ
Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah”. (Q.S. Al‘Alaq [96]: 2).
Ketika sperma bergabung dengan sel telur, terbentuklah sebuah sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot”, zigot ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi segumpal daging(mudghah) yang prosesnya juga terjadi selama 40 hari. Kemudian ada yang menjadi segumpal daging yang sempurna, tidak ada cacat dan kekurangan pada permulaan kejadiannya, dan ada pula yang menjadi segumpal daging yang tidak sempurna, terdapat cacat dan kekurangan. Berdasarkan kejadian sempurna dan tidak sempurna inilah menimbulkan perbedaan bentuk pada manusia, perbedaan tinggi dan pendeknya manusia dan sebagainya. Setelah itu segumpal daging ini dibalut dengan tulang belulang dan dibungkus lagi dengan daging Kemudian setelah lewat empat puluh hari sesudah ini, Allah SWT meniupkan ruh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya.
“……Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….”(QS Al-Hajj:5)

0 komentar:

Posting Komentar